Wednesday, 23 December 2009 11:18
| Article Index |
|---|
| Waspadai Hati yang Lalai Mengingat Allah |
| Page 2 |
| All Pages |
Hey kawan ada bacaan dalam buku Chocolate of Happiness (Joni L. Efendi) Bab 21, selamat baca kawan..
"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya yang telah diturunkan alkitab kepadanye, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik." (QS. al-HAdid {57}: 16)
Allah selalu mengingatkan manusia agar selalu berada dalam jalan petunjuk. Inilah alasan utama para rasul diutus untuk menyampaikan risalah agama tauhid, Islam. Islam adalah agama fitrah yang menyadarkan keimanan pada ketauhidan yang hanya menyembah, beribadah, dan mentaati Allah Swt.
Setiap detik yang kita lalui adalah waktu untuk mengingat Allah, mematuhi semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Inilah bukti keimanan di mana hati manusia seharusnya selalu tunduk dalam kedamaian iman.
Sejatinya, dalam hati manusia sudah "built in" sifat-sifat "ilahiah". Di antara sifat-sifat mulia Allah yang tertanam dalam hati manusia adalah cinta, kasih sayang, peduli, sabar, syukur, ikhlas, damai, bijaksana, dan lain sebagainya. Inilah kekuatan yang dapat mengantarkan seseorang ke gerbang kesuksesan dan kemulian hidup.
Hati adalah barometer baik-buruknya seseorang yang menjadi awal segala amal. Niat adalah bersitan kata hati yang cenderung dipengaruhi kondisi hati saat itu, apakah semata-mata mengharap ridha Allah Swt atau hanya untuk memenuhi hasrat duniawai.
Rasulullah Saw. bersabda :
"ketahuilah, dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Apabila segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Sebaliknya jika daging itu buruk, maka buruklah seluruh tubuhnya. Sesungguhnya segumpal daging itu adalah hati (kalbu)." (HR. Bukhari)
Hati orang-orang yang beriman tidak pernah lalai mengingat Allah. Setiap mendengar nama Allah dalam kondisi apa pun, hati akan bergetar seperti sebatang besi yang dialiri listrik hingga bisa menimbulkan medan magnet sekelilingnya. Cahaya keimanannya pun akan bertambah bila mendengar ayat-ayat Allah.
"Seseungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal." (QS. al-Anfal {8}: 2).
Imam al-Ghazali mengatakan bahwa hati yang bersih (qalbun salim) adalah hati yang memperoleh pencerahan dari Allah Swt., yaitu hati yang bersih dan terbebas dari tiga hal.
pertama, bersih dari dosa-dosa dan maksiat yang dapat merusak jiwa atau hati manusia. setiap dosa menimbulkan noda dalam hati.
kedua, bersih dari "berhala" kehidupan duniawi. Berhala dalam pengertian ini tidak hanya patung, tetapi apa saja yang disembah selain Allah.
"Apakah (ketidakdatangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zhalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zhalim." (QS. Nuur {24}: 50).
Ketiga, bersih dan bebas dari "stempel" (al-khatm). Hati yang bersih bukanlah hati yanh telah ditutup rapat-rapat (dikunci mai) oleh Allah. Itulah hati orang-orang kafir yang sengaja menolak adanya Tuhan dan menentang ajaran-Nya.